Hari Pendidikan dan UAN 2008

June 23, 2008 – 4:22 am

Kembali saya dihadapkan pada tiang yang menyangga bendera lusuh itu tetap berkibar. Selusuh itukah pendidikan Indonesia? Jawabnya beragam. Peringatan hari pendidikan terlalui begitu sangat biasa dan memang kering makna. Tayangan televisi sekali lagi menyuguhkan satire, di mana tawuran antar pelajar terjadi sesaat setelah mengikuti peringatan hari pendidikan nasional di Ambon. Satu contoh kecil dari sekian kegagalan pendidikan dalam mencetak generasi penerus bangsa.

Melanjutkan kisah memilukan tahun sebelumnya yang juga tak kunjung jelas penyelesaiaannya, UAN 2008 masih diwarnai praktik kecurangan di berbagai lapisan. Melanjutkan tulisan terkait tentang pendidikan memprihatinkan dan UAN sebelumnya, bahwa apa yang dikhawatirkan menimpa UAN 2008 ternyata benar-benar terjadi di lapangan. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, penyimpangan terjadi tak hanya di level siswa, di level pengawas pun terjadi penyimpangan.

Menghalalkan Segala Cara

Ujian Nasional dengan sendirinya telah menjelma menjadi bencana nasional yang mendorong mereka-mereka yang terlibat di dalamnya maupun yang terimbas karenanya berbondong-bondong melakukan tindakan positif dan negatif secara massal berjamaah dalam skala besar.

Siswa, adalah obyek paling tertindas dalam urusan yang satu ini. Momok bernama “tidak lulus” menjadikan mereka menempuh segala cara dan upaya agar lulus. Tindakan terpuji yang mereka lakukan di antaranya mengikuti bimbingan belajar, menambah jam belajar, mendekatkan diri pada Tuhan sesuai agama masing-masing.

Fenomena yang menonjol di Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya, istighosah yang menjadi ciri khas organisasi sosial keagamaan NU mulai digemari oleh para pendidik dengan menyelengarakannya di sekolah agar peserta didiknya berhasil seratus persen lulus ujian nasional. Upaya ini sangat baik meski sifatnya temporer dan cenderung pragmatis.

Hanya saja, siswa terlampau dicekam ketakutan, upaya positif yang mereka lakukan tak menjadikan mereka percaya diri dan mandiri dalam mengerjakan soal ujian nasional. Beredarnya jawaban ujian nasional via sms pada malam hingga pagi harinya menjadikan mereka berpikir seribu kali untuk tidak menjadikannya referensi. Alhasil, selain dikerjakan sendiri, mereka tetap memakai jawaban tersebut sebagai referensi. Apalagi sms yang beredar tersebut didapat dengan gratis dan tak perlu membayar.

Sementara, siswa yang memang pasrah dan menyerah sejak awal, memiliki kecenderungan mencari kunci soal dan menggantungkan sepenuhnya pada kunci tersebut dan tentunya dibantu kawan sekelilingnya.